Israel deliberately targeted Palestinian children in Gaza, resulting in genocide, crimes against humanity and war crimes, according to a new UN inquiry. The report says more than 20,000 children were killed between October 2023 and October 2025. Israel rejected the findings.
The following is a statement by Srinivasan Muralidhar, Chair of the Commission of Inquiry on the Occupied Palestinian Territory, delivered in Geneva, Switzerland, on June 23, 2026 :
The commission found indisputable evidence with regards to the deliberate, targeted killing of Palestinian children including since the October 2025 ceasefire. The use of torture, inhuman and degrading treatment including use of sexual and gender-based violence against Palestinian children, as well as targeting of critical infrastructure essential to children, such as orphanages, healthcare and education facilities.
There has been a widespread and systematic killing and harming of children between 7th October 2023 and 7th October 2025. We have witnessed more than 20,000 children who have been killed and more than 44,000 children who have been injured. As of 1st Octover 2025, there have been 151 children's deaths on account of malnutrition. We have also found that between October and December 2023, there have been at least more than a thousand instances of children undergoing amputation of one or more limbs.
Based on all the evidence gathered, the report makes legal findings and concludes that the Israeli authorities and the Israeli securities forces have deliberately targeted and killed Palestinian children and destroyed their childhood. Israeli authorities and Israeli security forces are responsible for crimes against humanity, including persecution and war crimes in the Gaza Strip and war crimes in the West Bank including East Jerusalem.
The report released today (June 23, 2026) further substantiates a finding on genocide.
*****
Menurut penyelidikan baru PBB, Israel secara sengaja menargetkan anak-anak Palestina di Gaza, yang mengakibatkan genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang. Laporan tersebut menyatakan bahwa lebih dari 20.000 anak tewas antara bulan Oktober 2023 dan Oktober 2025. Israel menolak temuan tersebut.
Berikut ini adalah pernyataan Srinivasan Muralidhar, Ketua Komisi Penyelidikan mengenai Wilayah Palestina yang Diduduki yang disampaikan di Jenewa, Swiss pada 23 Juni 2026 :
Komisi menemukan bukti tak terbantahkan terkait pembunuhan yang disengaja dan terarah terhadap anak-anak Palestina, termasuk yang terjadi sejak gencatan senjata Oktober 2025. Ditemukan pula bukti adanya penyiksaan serta perlakuan tidak manusiawi dan merendahkan martabat—termasuk penggunaan kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender—terhadap anak-anak Palestina, serta penargetan infrastruktur vital bagi anak-anak, seperti panti asuhan, fasilitas kesehatan, dan fasilitas pendidikan.
Telah terjadi pembunuhan dan tindakan yang mencelakai anak-anak secara luas dan sistematis antara tanggal 7 Oktober 2023 dan 7 Oktober 2025. Kami mencatat lebih dari 20.000 anak tewas dan lebih dari 44.000 anak terluka. Per 1 Oktober 2025, tercatat 151 kematian anak akibat kekurangan gizi. Kami juga menemukan bahwa antara bulan Oktober dan Desember 2023, terdapat setidaknya lebih dari seribu kasus di mana anak-anak harus menjalani amputasi pada satu atau lebih anggota tubuh mereka.
Berdasarkan seluruh bukti yang dikumpulkan, laporan ini menetapkan temuan hukum dan menyimpulkan bahwa otoritas serta pasukan keamanan Israel secara sengaja menargetkan dan membunuh anak-anak Palestina serta menghancurkan masa kanak-kanak mereka. Otoritas dan pasukan keamanan Israel bertanggung jawab atas kejahatan terhadap kemanusiaan—termasuk persekusi dan kejahatan perang di Jalur Gaza—serta kejahatan perang di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur.
Laporan yang dirilis hari ini (23 Juni 2026) semakin memperkuat temuan mengenai adanya genosida.
*****
Sumber :
Jika Israel selalu berkilah bahwa mereka-mereka yang berusia di atas 17 tahun baik remaja maupun dewasa itu dibunuh karena diduga sebagai anggota Hamas, lalu bagaimana dengan anak-anak ?
ReplyDeleteDalam hukum, anak-anak dinyatakan bebas dari hukum. Sedangkan dalam agama, anak-anak diyakini masih tidak terkena hukum syariat. Oleh karena itu, anak-anak dianggap sebagai suci tanpa dosa.
Oleh karena itu, ketika Israel laknatullah membunuh bahkan membantai anak-anak Palestina, maka sangat jelas tampak kebiadaban Israel laknatullah. Israel bukan hanya membunuh 1 orang yang tak bersalah, yaitu anak-anak, melainkan puluhan ribu yang terhitung sejak Oktober 2023. Dan mungkin bisa mencapai ratusan ribu bahkan jutaan anak kecil jika dihitung sejak 1948 bahkan sebelumnya.
Dan inilah yang disampaikan oleh Srinivasan Muralidhar, Ketua Komisi Penyelidikan mengenai Wilayah Palestina yang Diduduki yang disampaikan di Jenewa, Swiss pada 23 Juni 2026 : https://voiceofpalestina.blogspot.com/2026/07/israel-melakukan-genosida-dengan-menargetkan-anak-anak-gaza.html
Kesimpulannya, yang dilakukan oleh Israel laknatullah bukanlah perang, melainkan sebuah upaya melakukan genosida.
INGAT, Allah SWT berfirman : "Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya." [ Q.S. Al-Maidah : sebagian ayat 32 ]
Dan Allah SWT berfirman : "Siapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja, balasannya adalah (neraka) Jahanam. Dia kekal di dalamnya. Allah murka kepadanya, melaknatnya, dan menyediakan baginya azab yang sangat besar." [ Q.S. An-Nisa' : ayat 93 ]
Masih membela Israel ??? Masih merasa lebih mulia dari Allah sehingga tidak mau melaknat Israel ???
Salah satu yang bisa kita lakukan adalah mengutuk dan melaknat Israel atas kebiadabannya yang terus dilakukan ini. "Mampus Israel !". Semoga Allah mempercepat kehancuran Israel sehancur-hancurnya sebagaimana Allah menghancurkan bangsa-bangsa / kaum-kaum terdahulu yang zalim. Aamiin. Allahumma shali 'ala Muhammad wa aali Muhammad.
Bagaimana Menurut Anda ???
Salam Cerdas Bernalar, Beragama, dan Berpolitik,
Max Hendrian Sahuleka