Perang Palestina - Israel masih memanas. Israel menolak saran gencatan senjata dari PBB. Jumlah korban Palestina sudah lebih dari 8000 orang, di mana lebih dari 3000 adalah bayi dan anak-anak. Serangan Hamas pada tanggal 7 Oktober 2023 memicu serangan Israel yang masif ini. Banyak yang menyalahkan Hamas karena menyerang lebih dulu, tetapi melupakan akar sejarah perang ini yang bermula pada tahun 1948.
Film Farha besutan sutradara asal Yordania, Darin J. Sallam sempat menuai kontroversi di Israel usai dirilis platform Netflix pada 1 Desember 2022 lalu. Alasannya, film ini menampilkan peristiwa Nakba, pengusiran massal bangsa Palestina ketika pendirian negara Israel pada 1948 silam.
Film debut Darin J. Sallam ini pertama kali diputar di Festival Film Toronto pada 14 September 2021 silam. Film Farha kemudian diputar dalam skrining di Busan, Roma, dan Ramallah, Palestina.
Sutradara film Farha, Darin J. Sallam mengaku skenario filmnya didasarkan pada kisah nyata. Sallam mengaku tergerak membuat film tentang Nakba usai mendapatkan cerita pengalaman ayahnya ketika muda.
“Saya tidak takut mengatakan kebenaran. Itulah mengapa saya membuat film ini,” kata Sallam ketika filmnya ditayangkan di Festival Film Internasional Laut Merah pada 2021 silam sebagaimana dikutip Middle East Eye.
“Bukan karena saya politis, tetapi karena saya loyal terhadap cerita yang saya dengar,” lanjutnya.
Melansir The Intercept, Sallam mengaku cerita film Farha didasarkan pada kisah teman ibunya yang mengalami sendiri peristiwa Nakba ketika muda. Teman ibunya itu kemudian tinggal sebagai pengungsi di Suriah usai diusir Israel.
SINOPSIS FILM
Farha (Karam Taher) adalah gadis berusia 14 tahun yang tinggal di sebuah desa kecil di Palestina pada tahun 1948. Di tengah suasana yang damai, ia memiliki mimpi besar yang berbeda dari kebanyakan anak perempuan di sekitarnya. Farha ingin melanjutkan sekolah ke kota dan menuntut ilmu, bukan menikah muda seperti yang diharapkan masyarakat. Ayahnya, Abu Farha (Ashraf Barhom), seorang kepala desa yang dihormati, awalnya menolak keras keinginan itu karena khawatir akan keselamatannya. Namun, setelah melihat tekad dan semangat putrinya, ia akhirnya luluh dan memberikan izin. Momen bahagia itu menjadi titik balik dalam hidup Farha, karena tak lama kemudian, desanya dilanda tragedi besar akibat pecahnya konflik yang dikenal sebagai Nakba, ketika ribuan warga Palestina terusir dari tanah mereka.
Suasana yang awalnya tenang berubah menjadi kekacauan. Tentara bersenjata datang menyerbu desa, rumah-rumah dibakar, dan warga berlarian menyelamatkan diri. Abu Farha berusaha melindungi putrinya di tengah situasi yang semakin mencekam. Dalam keadaan genting, ia memutuskan untuk menyembunyikan Farha di sebuah gudang kecil di dalam rumah. Ia berjanji akan segera kembali menjemputnya, lalu mengunci pintu dari luar agar putrinya aman. Namun, sejak saat itu, dunia Farha berubah menjadi ruang sempit dan gelap. Dari balik celah pintu, ia hanya bisa menyaksikan tragedi kemanusiaan yang terjadi di depan matanya. Suara tembakan, jeritan, dan tangisan memenuhi udara, sementara ia tak bisa berbuat apa pun selain menahan napas dan ketakutan.
Hari demi hari berlalu dalam ketegangan. Farha menyaksikan kekejaman perang dari jarak yang begitu dekat tanpa bisa menolong siapa pun. Ia melihat keluarga yang terbunuh, anak-anak yang menangis mencari orang tua mereka, dan rumah-rumah yang rata dengan tanah. Rasa lapar dan haus mulai menyerangnya, sementara harapan untuk ayahnya kembali semakin menipis. Film ini menyoroti penderitaan dari perspektif seorang remaja yang terjebak di antara mimpi dan realitas perang yang kejam. Sutradara Darin J. Sallam dengan cermat menggambarkan bagaimana ketakutan dan kehilangan bisa mengubah seseorang menjadi lebih kuat sekaligus lebih hancur di dalam. Lewat akting Karam Taher yang memikat, penonton diajak merasakan keputusasaan dan harapan kecil yang terus berjuang untuk hidup di tengah kehancuran.
Kisah Farha bukan hanya tentang perang, tetapi juga tentang kemanusiaan dan kehilangan masa depan yang seharusnya dimiliki seorang anak. Setiap detik di dalam ruang sempit itu menjadi pertaruhan antara hidup dan mati, antara keyakinan dan keputusasaan. Pertanyaannya, apakah Farha akhirnya berhasil keluar dari tempat persembunyiannya dan menemukan ayahnya kembali? Ataukah dunia di luar sudah berubah menjadi sesuatu yang tak lagi bisa disebut rumah?

No comments:
Post a Comment