Seorang jurnalis Palestina telah sadar kembali setelah berbulan-bulan mengalami koma usai dibebaskan dari penjara Israel. Mujahed Bani Mufleh mengungkapkan kepada Al Jazeera bahwa ia mengalami penganiayaan selama masa penahanannya. Kondisi kesehatannya kini rentan, namun ia bertekad untuk menyuarakan kisah warga Palestina, khususnya mereka yang masih mendekam di penjara.
Berikut ini adalah transkrip dari video di atas tentang hal ini :
Jihad Bani Mifleh says he was arrested for being a Palestinian journalist. He says what he witnessed inside Israeli jails only made him more adamant to tell the story.
With his voice breaking, he says Israeli prisons are becoming graveyards and that the world needs to know what it means to be hungry and to long for a sip of water.
Israeli forces detained Jihad wihout charge. He spent 6 moths behind bars. Two days after his release in January, he complained of a headache and fell into a coma. He regained consciousness just days ago and is still under medical supervision.
Jihad says as a journalist, he was able to get other prisoners' stories, yet what he endured was beyond anything he's ever heard. He says Israeli detention system is designed to break the prisoners' souls long before it breaks their bodies.
I began recalling and speaking about what I went through inside the prisons, starvation, humiliation, and qahar. It was simply too much to process.
Qahar is a complex word in Arabic that does not have an English translation. It's a set of emotions that includes injustice, oppression, racism, and dehumanization.
We visited Jihad in hospital in January. He was out of prison, but his story was far from over. He was unconscious for more than 4 months. His doctors confirmed he had suffered a brain hemorrhage. Accross the occupied West Bank, many released prisoners go straight from Israeli prisons to hospital wards. And beyond the visible wounds, there are those that doctors say could require years, if not a lifetime, of rehabilitation.
This is Abdallah Shatat, a Palestinian activist held under Israel's so called administrative detention for 32 months. No charge, no trial. This is Abdallah before his arrest, and this is him now. He's lost 50 kg. He has so many issues barely recognize my own son as Adeeb.
I'm not joking or exaggerating. I keep calling his name just to make sure it's really him.
For many of these prisoners, a full meal, a pain-free breath, a beloved face are blessings they were deprived of. Mujahid wants to recover, but more than that, he wants to return to work. Not just to report on what Palestinian prisoners endure in Israel detention, but to follow their journey out, to document the long, quiet struggle to reclaim what captivity took from them.
*****
Jihad Bani Mifleh mengatakan ia ditangkap karena profesinya sebagai jurnalis Palestina. Ia menuturkan bahwa apa yang disaksikannya di dalam penjara Israel justru membuatnya semakin bertekad untuk menceritakan kisahnya.
Dengan suara yang terbata-bata, ia mengatakan bahwa penjara-penjara Israel telah berubah menjadi kuburan, dan dunia perlu mengetahui bagaimana rasanya menahan lapar serta mendambakan seteguk air.
Pasukan Israel menahan Jihad tanpa dakwaan resmi. Ia menghabiskan waktu enam bulan di balik jeruji besi. Dua hari setelah dibebaskan pada bulan Januari, ia mengeluhkan sakit kepala lalu jatuh koma. Ia baru sadar kembali beberapa hari yang lalu dan saat ini masih berada dalam pengawasan medis.
Jihad mengatakan bahwa sebagai jurnalis, ia sempat mendengar kisah-kisah tahanan lain, namun penderitaan yang ia alami sendiri jauh melampaui apa pun yang pernah didengarnya. Menurutnya, sistem penahanan Israel dirancang untuk menghancurkan jiwa para tahanan jauh sebelum menghancurkan fisik mereka.
"Saya mulai mengingat dan menceritakan kembali apa yang saya alami di dalam penjara—kelaparan, penghinaan, dan *qahar*. Beban itu sungguh terlalu berat untuk diproses."
*Qahar* adalah istilah kompleks dalam bahasa Arab yang tidak memiliki padanan kata langsung dalam bahasa Inggris. Istilah ini mencakup perpaduan emosi yang meliputi ketidakadilan, penindasan, rasisme, dan dehumanisasi.
Kami mengunjungi Jihad di rumah sakit pada bulan Januari. Ia memang sudah keluar dari penjara, namun kisahnya belum berakhir. Ia sempat tak sadarkan diri selama lebih dari empat bulan. Dokter memastikan bahwa ia mengalami pendarahan otak. Di seluruh wilayah Tepi Barat yang diduduki, banyak mantan tahanan yang langsung dipindahkan dari penjara Israel ke bangsal rumah sakit. Selain luka fisik yang terlihat, ada pula luka-luka lain yang menurut dokter mungkin memerlukan rehabilitasi bertahun-tahun, bahkan seumur hidup.
*****
Sumber :
https://www.youtube.com/watch?v=llEOu1F_NRE
No comments:
Post a Comment