4 Juni, mengingatkan
kita kepada wafatnya sosok besar penoreh sejarah yang mengumandangkan seruan
kebebasan dan kemerdekaan, menyuarakan wacana penentangan terhadap arogansi dan
dukungan terhadap muqawamah
(perlawanan)
Islam.
Mengingat dan mengenang nama orang-orang besar dalam
sejarah yang mampu mengubah nasib suatu bangsa dengan pemikiran Ilahi, tekad
yang kuat dan kegigihannya, menjadi tugas semua orang yang memiliki kepedulian
terhadap generasi mendatang.
Imam
Khomeini melakukan kebangkitan di masa keterasingan
manusia, kegelapan kebodohan dan keacuhan terhadap agama, menghancurkan
‘berhala-berhala’, dan membuka jendela cahaya untuk manusia-manusia yang peduli
dan menantikan kemerdekaan. Dalam lingkaran sosok-sosok agung inilah mengenal
berbagai dimensi eksistensialnya menjadi tidak mudah.
Kemenangan Revolusi Islam Iran di bawah kepemimpinan
Imam Khomeini menciptakan sebuah revolusi komprehensif di semua bidang politik,
sosial, budaya, bahkan tutur kata. Menurut sebagian besar pakar politik dan
sosial, pandangan dan pemikiran agung pendiri revolusi telah memasukkan agama
yang sebelumnya hanya menjadi catatan pinggiran ke dalam teks asli kehidupan
individual dan sosial masyarakat Iran dan dunia.
Hari ini, hasil luar
biasa dari peristiwa sejarah besar itu dapat dilihat pada kebangkitan Islam dan
menguatnya semangat anti penindasan masyarakat dunia.
Meski telah banyak ditulis buku dan artikel tentang
sisi-sisi kepribadian dan irfan Imam Khomeini, namun sebagaimana yang
disampaikan oleh Pemimpin Tertinggi Republik Islam Iran saat ini, Ayatullah
Khamenei: Apa yang kita katakan tentang Imam Khomeini bukan sesuatu yang
berlebihan, akan tetapi bagian dari realita; lebih dari apa yang kita
deskripsikan dan mampu kita paparkan. Imam Khomeini mengandung makna dan arti
yang dalam.
Pandangan dan pemikiran Imam Khomeini di bidang
persatuan Islam membawa perubahan dalam tren baru perimbangan Timur Tengah dan
menghembuskan semangat baru pada arus Islam di kawasan. Sementara kelompok
perlawanan dan jihadis di negara Palestina dan Lebanon yang berada pada titik balik dunia Islam
lebih diuntungkan oleh gelombang persatuan Islam dan sebagai hasilnya,
memainkan peran besar dalam mewujudkan pemikiran Imam Khoemini.
Negara-negara Islam,
sebelum kemenangan Revolusi Islam Iran, memandang Palestina sebagai sebuah
persoalan Arab dan perselisihan antara orang-orang Arab dan Yahudi. Karena itu, mereka menerima keberadaan
negara dan rezim dengan nama Israel di
kawasan dan lantas berusaha mencari solusi pertikaian antara Palestina dan
Israel.
Imam Khomeini berkeyakinan bahwa persoalan Palestina
adalah persoalan dunia Islam. Israel bukan hanya rezim yang tidak sah, bahkan
merupakan bahaya terbesar bagi stabilitas global dan sebuah kelenjar kanker di
kawasan. Imam Khomeini menyebut Israel sebagai anak haram kolonialisme yang
haus kekuasaan. Karena itu, kemusnahannya demi menjaga perdamaian dan
kemerdekaan di dunia adalah sebuah keharusan.
Dalam perspektif Imam
Khomeini, semua tanah Palestina adalah milik umat Islam dan tidak ada individu
atau pemerintah mana pun yang berhak menyerahkan, meski sejengkalnya saja.
Segala bentuk kompromi dalam persoalan ini berarti termasuk penentangan
terhadap Islam dan syariat Nabi Muhammad saw.
Imam Khomeini, dari sisi lain, memandang persoalan
Palestina sebagai sebuah persoalan kemanusiaan. Kejahatan rezim Zionis terhadap bangsa Palestina
menandakan sikap anti rezim ini dan para pendukungnya terhadap kemanusiaan dan
kemerdekaan. Akhirnya, setiap manusia dari agama dan aliran mana pun memiliki
kewajiban untuk bangkit mendukung dan membela bangsa tertindas ini.
Pandangan dan
pencerahan Imam Khomeini beserta argumen dan bukti-bukti yang ada dari tindakan
Israel menyebabkan isu Palestina berubah dari isu Arab menjadi arus dan tren
global yang berlandaskan kepada dua pilar, yaitu dukungan kepada yang tertindas
dan perlawanan terhadap arogansi dan kolonialisme. Di satu sisi, PBB melalui
sebuah resolusinya mengakui perlawanan ini sebagai hak-hak pasti rakyat
Palestina yang tidak dapat dicabut.
Kini, seluruh arus perlawanan Palestina yang disambut
rakyat Palestina dan memiliki peran dalam pembentukan dan kelanjutan Intifada Kedua, secara langsung
terpengaruh oleh pemikiran Imam Khomeini dan Revolusi Islam. Mereka meyakini,
satu-satunya jalan kemenangan adalah dengan lenyapnya Israel secara total.
Baitul Maqdis adalah
kiblat pertama umat Islam dan kota agama ketiga mereka yang memiliki
keterkaitan dengan akidah umat Islam. Karena itu, ikatan hubungan Imam Khomeini
dengan Palestina dan Baitul Maqdis bukan sebuah ikatan hubungan baru.
Isu ini telah menjadi perhatian beliau sejak awal
dekade 40-an. Imam Khomeini memandang, Syah (Mohammad Reza Pahlavi, juga
dikenal dengan Mohammad Reza Shah, adalah Syah [Raja] Iran terakhir dari 16
September 1941 hingga penggulingannya dalam Revolusi Iran pada 11 Februari
1979. Karena statusnya sebagai Syah terakhir Iran, ia sering dikenal sebagai
Syah saja), Amerika, dan Israel sebagai komplotan yang bersekutu melawan Islam.
Imam Khomeini pada 1962 mengumumkan: “Berdasarkan
kewajiban syar’i terhadap bangsa Iran dan umat Islam di dunia, saya
mengingatkan akan adanya bahaya di depan. Alquran dan Islam berada dalam
bahaya.”
Pasca Revolusi Islam
Iran pun, Imam Khomeini semakin mengikuti perkembangan isu Palestina dan dalam
berbagai kesempatan selalu mengingatkan bahaya Israel dan Zionis. Dari
ucapan-ucapan Imam Khomeini, dapat disimpulkan pokok-pokok persoalan Palestina
dalam pemikirannya sebagai berikut:
- Pemisahan persoalan Yahudi dari Zionisme
- Menyerukan umat Islam untuk bersatu melawan Israel
- Mengalokasikan dana keagamaan untuk para pejuang Palestina
- Menjadikan Jumat terakhir bulan suci Ramadhan sebagai Hari Quds Sedunia
- Penghapusan Israel
Secara
umum, fungsi terpenting dari pemikiran Imam Khomeini dalam persoalan Palestina
dapat disebutkan sebagai berikut: Mengungkap sifat rasis dan anti-kemanusiaan
dari rezim Zionis, pembentukan dan kemenangan gerakan Islam dan kesyahidan pada
arus perlawanan rakyat Palestina, kegagalan kompromi dan rencana AS di Timur
Tengah dan sambutan dunia untuk mendukung perjuangan rakyat Palestina melawan
Zionisme.
Imam
Khomeini menyebut perang melawan Zionisme internasional dan kekuatan ambisius
sebagai sebuah perang abadi antara kaum mustadhafin (tertindas) dengan mereka.
Sang Imam juga melihat Palestina dan Quds (Yerusalem) sebagai poros gerakan ini
dan memaparkan ajaran Islam sebagai poros ideologi perlawanan ini. Karena
Zionisme telah melucuti hampir semua ajaran agama dan non-agama lainnya di
bidang perlawanan terhadap mereka.
Hari ini, pemikiran
Islam sendiri masih tegak di hadapan arus ini. Melihat perkembangan di tingkat
internasional dan bahwa perang atau perlawanan nyata terjadi antara Zionisme
dengan Islam, maka lapisan masyarakat dunia yang tertindas yang disebut oleh
Imam Khomeini sebagai mustadhafin, secara alami terinspirasi dari ideologi
Islam dan mampu berdiri melawan Zionisme serta besar harapan meraih kemenangan.
Karena
Palestina adalah wilayah pertama dari perang ini, mendukung kemerdekaan
Palestina menjadi sebuah taklif (kewajiban) global. (*)
*****
Sumber :
https://rm.id/baca-berita/internasional/78248/imam-khomeini-dan-palestina
No comments:
Post a Comment