Palestina hingga kini masih mengalami apa yang disebut demokrasi
sebagai kebiadaban: perang. Merupakan pemahaman umum, saat suatu negara ikut
dalam hubungan internasional berarti saat itu demokrasi menjadi prasyarat. Maka
pergantian pemerintahan dari, oleh, dan untuk rakyat hanya sah melalui
penyelenggaraan pemilu. Kontestasi politik kuasa dalam pemilu merupakan praktek
beradab pergantian pemerintahan secara berkala dan partisipatif terhadap
rakyat.
Jika
dikaitkan dengan konteks Palestina, pemilu lebih merupakan sebuah legitimasi
intervensi kuasa Amerika Serikat (AS). Yang dimaksud AS di sini adalah
kepentingan politik ekonomi ideologi kapitalisme. Ini dasar berjalannya standar
ganda AS dalam kerjasama internasional dengan pemerintahan Negara lain hasil pemilu.
Jika kontestasi ideologi pemilu suatu negara bertentangan dengan kepentingan
kapitalistik AS, pemerintahan negara tersebut bisa dikudeta.
Tepatnya
pada Pemilu 2006 Palestina. Pemungutan suara pemilu kedua sejak 1996 ini,
diselenggarakan 25 Januari untuk memilih Dewan Legislatif Palestina (PLC) dan
Dewan Perwakilan Rakyat Otoritas Nasional Palestina (PNA). Hasilnya Partai
Hamas memperoleh 74 kursi dari 132 kursi. Sementara Partai Fatah sebagai
pemenang pemilu sebelumnya (1996, 88,2%), di Pemilu 2006 hanya memperoleh 45
kursi. Hamas, Fatah, dan Popular Front for the Liberation of Palestine (PFLP)
berbagi suara total nasional dengan persentase 44,45%, 41,43%, dan 4,25%.
Pada
2007, AS mengkudeta pemerintahan hasil Pemilu 2006. Berdasar dokumen yang
didapatnya, jurnalis David Rose melalui tulisannya "The Gaza Bombshell" memaparkan, kudeta di Palestina dijalankan Amerika Serikat
bersama Israel dengan mengerahkan kekuatan militer melalui pihak Partai Fatah
di pemerintahan. Kudeta ini oleh filusuf Amerika Serikat, Noam Chomsky disebut
sebagai bagian dari "Nightmare in Gazza" (2014). Chomsky
mengingatkan, para pemimpin Hamas telah berulang kali menegaskan, Hamas akan
menerima penyelesaian dua-negara sesuai dengan konsensus internasional yang
telah diblokir AS dan Israel selama 40 tahun.
Hamas
sebagai singkatan dari Harakah al-Muqawamah al-Islamiyah (Gerakan Perlawanan
Islam) merupakan organiasi berideologi Islam. Kepesertaan Hamas sebagai partai
di Pemilu 2006 merupakan yang pertama sejak pemilu pertama Palestina 1996.
Hamas didirikan pada 1987 oleh Sheik Ahmed Yassin sebagai cabang gerakan
kebangkitan Islam, Al Ikhwanul Muslimin (persaudaraan muslim) pimpinan Hasan Al
Bana.
Piagam
Hamas 1988 menegaskan, Hamas didirikan untuk membebaskan Palestina dari kolonialisasi
militer oleh Israel. Konteks ini mendorong Hamas membentuk sayap militer,
Ad-Din Al-Qassam. Di sini dipakai pemahaman, senjata api merupakan hal yang
dibutuhkan dalam pembebasan melawan penjajahan Israel.
Latar
belakang Hamas itulah yang menjadi dasar Amerika Serikat dan (tentu saja)
Israel menggagalkan pemerintahan hasil pemilu. Hamas diyakini hanya menjadikan
demokrasi sebagai alat meraih kuasa pemerintahan Palestina untuk menerapkan
agenda Islamis. Kepentingan Amerika Serikat yang tercermin dalam perluasan
Negara Israel merasa terancam dengan kemenangan Hamas di pemilu. Kemerdekaan
Palestina dari pendudukan Israel sebagai dasar berdirinya Hamas akan
mempersulit bertambahnya (bahkan mengurangi) luasan Negara Israel.
Jika
para akademisi (orientalis) AS dan Eropa suka bertanya mengenai relasi Islam
dan Demokrasi, Pemilu Palestina 2006 merupakan jawaban, Islam (bahkan dengan
terma fundamentalis[me] yang dinisbatkan orientalis pada Hamas) bisa menerima
pemerintahan berpaham kedaulatan ada di tangan rakyat (bukan Allah) itu.
Kita
tahu, dalam perspektif tradisi referensi suci Islam, demokrasi bukan sistem
pemerintahan yang berasal atau secara mendasar sesuai dengan Islam. Tapi Hamas
menerima demokrasi serta mengikuti dan menjalankan tahapan pemilu sebagai prosedur
demokrasi.
Menyertakan
sejarah kudeta hasil Pemilu Palestina 2006 ini dengan sejarah kudeta Mesir 2013
menguatkan makna pemilu sebagai legitimasi intervensi kuasa AS. Kita tahu,
Mohamed Morsi merupakan presiden pertama Mesir yang dipilih melalui pemilu.
Ternyata, tak sampai satu tahun, pemerintahan hasil prosedur demokrasi itu
digulingkan massa dan militer serta dukungan AS atas dasar perbedaan ideologi.
Morsi
berasal dari Partai Kebebasan dan Keadilan berbasis massa gerakan Al Ikhwanul
Muslimin dan berideologi Islam yang memenangkan pemilu legislatif 2012. Morsi
bersama partainya yang menguasai parlemen dinilai menerapkan dan memperluas
agenda Islam ke banyak aspek pemerintahan dan negara.
Ini
pun bukan soal Islam dan Timur Tengah saja. Kisah kudeta hasil pemilu dan
intervensi kuasa AS pun terjadi di negara sosialis Amerika Latin yang
pemerintahannya dipilih melalui prosedur demokrasi. 1973, Salvador Allende di
Chili yang menjalankan program nasionalisasi perbankan, pertambangan, dan
industri Chili berhasil dikudeta Jenderal Pinoche atas dukungan AS. Tuduhan tak
demokratis hanya stempel karena kita bisa membandingkan betapa tak
demokratisnya sosial-politik Arab Saudi dan Singapura tapi tak ada kudeta
karena secara ekonomi menguntungkan AS.
PERANG IDEOLOGI
Politik
luar negeri AS menyertakan klaim, menyebarkan demokrasi berarti menawarkan
perdamaian. Tapi standar ganda diterapkan AS. Perang menjadi bagian demokrasi
saat pemilu menghasilkan pemerintahan yang tak terbuka terhadap kuasa
kapitalistik AS. Apa yang diterapkan AS di Palestina, Mesir dan Chili pun
diterapkan di Indonesia.
Dengan
perspektif ideologis, pemilu pada dasarnya merupakan perang ideologis. Prosedur
dari, oleh, dan untuk rakyat ini dirancang oleh elite kuasa untuk
mempertahankan kuasanya dan menutup kuasa lain. Jika Pemilu 1955 Indonesia yang
sangat ideologis itu menerapkan sistem mayoritarian (kemenangan distrik),
Indonesia berpotensi menjadi negara Islam melalui Masyumi dan partai
berideologi Islam lainnya. Maka sistem proporsional didorong untuk memungkinkan
partai nasionalis memenangkan pemilu karena basis massanya di Pulau Jawa yang
berpenduduk banyak.
Indonesianis,
Max Lane dalam "Malapetaka di Indonesia"(2012) menjelaskan,
pasca-Pemilu 1955 yang ideologis, pemerintahan di jelang pemilu berikutnya
dikudeta militer. Tragedi 30 September 1965, merupakan tanda ideologi lain
bernama komunisme melalui Partai Komunis Indonesia (PKI) berpotensi menguasai
pemerintahan jika pemilu bisa diselenggarakan. Soekarno yang dekat dengan PKI
merapatkan hubungan bileteral ke China. Ucap "Go to hell with your aid" dari Soekarno menutup banyak kerjasama Indonesia dengan AS
beserta lembaga dana moneter internasional melalui nasionalisasi perusahaan.
Kudeta
1965 terhadap pemerintahan Soekarno juga merupakan pembantaian ideologi
sekaligus massa komunisme. Ini awal berdirinya pemerintahan otoriter Orde Baru
yang dilegitimasi Pemilu 1971. Sejak itu, rezim pemerintahan Soeharto langgeng
30-an tahun terpilih melalui pemilu yang pura-pura pemilu. Jika AS mau
konsisten dengan klaim demokrasinya, jelas, otoritarian Orde Baru merupakan
praktek pemerintahan paling tak demokratis dalam sejarah Indonesia. Tapi selama
hampir setengah usia Indonesia itu, AS mendukung Soeharto karena sejalan dengan
intervensi Super Power.
Sikap
Soekarno yang menutup intervensi kuasa AS pun dilakukan Soeharto di era krisis
moneter 1997-98. Soeharto sadar, menjual atau memberikan jaminan aset nasional
dalam keadaan krisis kepada AS dan lembaga dana moneter internasional untuk
mendapatkan pinjaman dana malah memperburuk ekonomi Indonesia. Soeharto lalu
dikudeta melalui militer dan skenario demonstran dan kemarahan massa. Pemilu
1999 harus diselenggarakan untuk menggantikan Soeharto. Tujuannya, pemerintahan
terpilih harus terbuka terhadap privatisasi aset nasional.
PEMILU IDEOLOGIS
Merujuk
pemilu Palestina, Mesir, dan tragedi 65, hadirkan pertanyaan, mungkinkah pemilu
menjadi kontestasi ragam ideologi? Apakah bisa ideologi seperti Islamisme dan
Komunisme berprospek menang di pemilu dan menjalankan pemerintahan hingga
pemilu berikutnya? Atau mungkin kudeta adalah kepastian terhadap pemerintahan
atau hasil pemilu yang cenderung menolak intervensi kuasa AS?
Pemilu
1999, ragam ideologi tumbuh dalam pemilu setelah 30 tahun dibunuh Orde Baru.
Melihat hasilnya, partai ideologis ternyata mendapat respon yang sangat sedikit
dari warga. Beberapa kali pemilu pasca-Reformasi diselenggarakan, ideologi
justru semakin hilang. Intervensi kuasa kapital semakin menguatkan pragmatisme
partai dan parlemen. Modal uang dinilai jauh lebih penting dibandingkan modal
massa yang nyata dididik politik.
Pemilu
Palestina 2006 sebetulnya bisa menjadi inspirasi partai dan pemilu Indonesia.
Sejatinya, ideologi merupakan konsepsi dari kesadaran dan pengalaman penindasan
secara kolektif. Dengan ini, konsep berpikir dan massa bisa meraih kuasa untuk
menghasilkan kebijakan yang menjadi solusi permasalahan masyarakat dan negara.
Jauh/dekat-nya
pemilu dengan cita kemerdekaan rakyat diukur dari seberapa intim partai dengan
massa yang akan memilihnya di pemilu. Hamas dan Palestina merupakan pengingat
bahwa politik yang berkepentingan publik harus berasal dari pengalaman dan
kebutuhan publik. Hal ini menjadikan partai dengan ideologinya bisa
menghubungkan politik yang kultural dengan yang struktural melalui pemilu.
Pengalaman
kolektif warga Palestina adalah penindasan berupa kolonialisasi dan perang oleh
Israel. Kesadaran permasalahan ini menumbuhkan kebutuhan akan kemerdekaan
Palestina. Hamas dengan ideologi (kebangkitan) Islam lahir dari konteks
pengalaman dan kesadaran itu. Sehingga, Hamas bisa memenangkan pemilu meski
sebagai kontestan baru.
Pasca-pemilu, partai seharusnya kembali pada rakyat untuk memenangkan pemilu berikutnya. Partai harus mengalami permasalahan rakyat. Dengan ini ideologi kembali dirumuskan agar bisa relevan dengan kebutuhan rakyat. Islamisme, komunisme, sosialisme, nasionalisme, atau apapun. Menangkan lah pemilu untuk menerapkan ideologi itu di pemerintahan terpilih. Jika dikudeta, berarti benar pemilu adalah legitimasi intervensi kuasa AS. []
*****
Sumber :
https://rumahpemilu.or.id/palestina-pemilu-dan-kudeta/
No comments:
Post a Comment